Lembang dan Sekitarnya

Sumber air panas di sekitar Lembang dan Tangkuban Perahu merupakan sarana wisata yang sudah populer di kalangan orang Belanda di awal tahun 1900. Pembangunan di daerah ini dimulai secara serius pada tahun 1920 ketika mereka membangun resort-resort kecil di Lembang. Lokasi Lembang yang berada di dataran tinggi membuat daerah ini memiliki suhu yang sejuk sepanjang tahun.

Lembang

Karena memiliki suhu yang sejuk, Bandung ataupun Lembang juga terkenal sebagai penghasil sayur-sayuran dan susu segar. Di sepanjang Jalan Raya Lembang, dari arah Bandung menuju Tangkuban Perahu (atau sebaliknya), terdapat banyak penjual buah-buahan dan sayuran. Beberapa warung juga menjual kelinci hidup. Beberapa restoran dan warung di sepanjang jalan ini juga menyediakan hidangan dari kelinci yang biasanya dimasak dengan bumbu gule atau sate kelinci. Informasi lebih lanjut mengenai “Makanan, Minuman, dan Hiburan” di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Masih di kawasan Lembang, tidak jauh setelah meninggalkan kota Bandung (di Jalan Setiabudi), orang-orang dapat melihat kediaman Presiden Ketiga RI BJ Habibie, meskipun menurut rumor yang beredar beliau banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya di Jerman, negara di mana ia pernah belajar, bekerja dan berdomisili sebelum kembali ke tanah air untuk membantu mantan Presiden Soeharto kala itu.

Beberapa tempat menarik untuk dikunjungi di wilayah Lembang:

Air Terjun Maribaya

Air Terjun Maribaya terkenal karena ketinggian air terjunnya yang mencapai 25 meter dan masih menjadi bagian dari obyek wisata di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda atau Dago Pakar yang berlokasi di Maribaya. Walaupun berada di dalam area Tahura Ir. H. Juanda, air terjun ini lebih mudah dicapai melalui pintu masuk V di Jalan Maribaya, yang terletak sekitar 3 kilometer dari Pasar Lembang.

Terkadang pengunjung memilih untuk berjalan kaki dari air terjun ini menuju Taman Dago Pakar atau menggunakan alternatif jalan lainnya untuk menikmati pemandangan alam yang indah. Sebagai referensi, Air Terjun Maribaya bisa dicapai dengan berjalan kaki selama sekitar satu jam dari pintu masuk Taman Dago Pakar (air terjun ini terletak sekiar 6 kilometer dari Dago).

Lokasi:di dalam Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda (lihat artikel di atas) atau pintu masuk V, yang terletak sekitar 3 kilometer dari Pasar Lembang
Telepon:022 2515895 atau 081 563 974 840 (Ibu Teni)
Fax:022 2507891
Biaya masuk:Rp. 8.500/orang untuk wisatawan lokal atau Rp. 51.000/orang untuk wisatawan asing. Biaya pemandu (jika ingin dipandu oleh orang setempat) Rp. 75.000-Rp. 100.000
Jam operasional:setiap hari, pk. 8:00-16:00
Fasilitas:toilet, warung, toko bunga, mushola
Cara menuju ke sana:dari pasar Lembang Anda bisa naik angkot Maribaya-Lembang, yang menuju ke Maribaya (tarif: Rp. 4.000 dengan waktu tempuh kira-kira 30 menit) atau naik ojek (tarif: Rp. 10.000 dengan 20 menit perjalanan). Dari stasiun Bandung naik angkot ke stasiun Dago. Dari stasiun Dago disambung dengan angkot ke stasiun Dago Pakar (ongkos: sekitar Rp. 5.000). Air terjun ini berjarak sekitar 6 kilometer dari stasiun Dago Pakar. Ojek juga dapat dijadikan pilihan dengan ongkos sekitar Rp. 15.000
Keterangan:untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Ibu Teni di nomor telepon di atas.

Observatorium Astronomi Bosscha

Observatorium Bosscha terletak di Lembang yang berada pada ketinggian lebih dari 1300 meter di atas permukaan laut. Observatorium ini diresmikan pada tahun 1923 oleh D. Fock, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. Nama observatorium ini sendiri diambil dari Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang “penduduk lokal” yang mendonasikan sebagian tanahnya untuk pembangunan observatorium ini.

Observatorium Bosscha sekarang dirawat dan dikelola oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung.

Observatorium Bosscha adalah observatorium astronomi terbesar di Indonesia dan juga satu-satunya di Asia Tenggara. Pada tanggal 19-27 Agustus 2008 Bosscha menjadi tuan rumah Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Internasional (IOAA) ke-2 yang diikuti oleh 89 pelajar dari 21 negara.

Lokasi: Observatorium Bosscha, Jl. Penoropongan Bintang, Lembang (kira-kira 10 kilometer ke arah utara Cihampelas Walk)
Telepon/Fax:022 2786001
Website:www.as.itb.ac.id atau www.bosscha.itb.ac.id
Email:kunjungan@as.itb.ac.id
Jam Operasional:Kunjungan siang: Selasa-Kamis, pk. 9:00, 11:00, 13:00 (khusus rombongan min. 25 hingga 150 orang). Jumat, pk. 9:00, 13.00 (khusus rombongan min. 25 hingga 150 orang). Sabtu, pk. 9:00-13.00 (khusus keluarga, maks. 25 orang)
Kunjungan malam: jadwal ditentukan oleh observatorium, hanya 3 malam per bulan pada musim kemarau (April-Oktober), pk. 17.00-20.00
Biaya masuk:Rp. 7.500/orang untuk kunjungan siang (baik rombongan maupun individu). Rp. 10.000/orang untuk kunjungan malam
Fasilitas:pemandu wisata, perpustakaan, museum, toilet, toko cinderamata
Cara menuju ke sana:dengan angkot: dari terminal Ledeng, naik angkot jurusan Lembang (perjalanan sekitar 6 kilometer ke arah utara), katakan kepada sopir untuk menurunkan Anda di Bosscha (di Batu Reok, ongkos: Rp. 3.000). Dari sana bisa dilanjutkan dengan naik ojek (ongkos: Rp. 5.000) atau berjalan kaki ke observatorium ini (jalan menanjak sekitar 800 meter dari tempat turun dari angkot/tempat parkir bawah)
Keterangan: disarankan melakukan reservasi lebih awal (paling lambat dua minggu sebelum tanggal kunjungan). Untuk kunjungan siang hari, pengunjung akan mendapatkan informasi umum mengenai astronomi dan untuk kunjungan malam hari pengunjung dapat menggunakan peralatan observasi. Disarankan untuk datang tepat pada waktu yang sudah dijadwalkan. Kunjungan dapat dibatalkan jika ada kegiatan internal yang mendesak.

Gua Maria Karmel

Konon, bangunan awal di Gua Maria Karmel adalah sebuah gereja kecil dan asrama biarawati Belanda, tetapi sejak Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, semua berubah dan saat ini sudah tidak ada lagi biarawati Belanda maupun asramanya. Namun, gereja kecil ini masih berdiri dengan indah setelah dilakukan renovasi yang selesai pada tahun 1989.

Di Gua Maria Karmel terdapat dua “jalan kecil” untuk pengunjung yang akan memberikan sisi berbeda dari tempat ini. Di jalan pertama, pengunjung akan melihat 14 patung berbeda-beda dari “Via Dolorosa” yang terkenal. Sedangkan jalan kedua merupakan jalan kecil menuju Gua Maria Karmel, di mana pengunjung bisa berdoa dengan khusuk dengan pemandangan bukit di depan area.

Setiap hari Minggu pagi di jalan gerbang masuk gereja selalu ada ”pasar kaget”, di mana pengunjung dapat membeli sayuran dan buah-buahan yang berasal dari kebun milik penduduk sekitar Gua Maria Karmel.


Lokasi:Jl. Karmel II / 51, Lembang
Telepon:022 2786152
Jam operasional:Gua Maria Karmel buka setiap hari, pk. 7:00-19:00. Gereja buka setiap hari, pk. 6:00-16:00. Jadwal misa: Senin-Jumat, pk. 6:30; Sabtu, pk. 17:45; Minggu, pk. 8:00
Biaya masuk:gratis
Fasilitas:toilet
Fasilitas umum terdekat:ATM, warung internet, mini market, apotek
Tempat menarik terdekat:Tugu/Patung Sapi Perah, Vihara Vipassana
Cara menuju ke sana:dengan angkot: sebelum Pasar Lembang, ada papan petunjuk “Gua Maria Karmel” (terletak tepat di sebelah Hotel Pesona Bambu). Dari terminal angkot Ledeng, Anda bisa naik angkot yang menuju Lembang dan turun di Hotel Pesona Bambu (tarif: Rp. 3.000) dalam waktu 20 menit
Keterangan:pengunjung Gua Maria Karmel umumnya adalah pengunjung perorangan yang ingin berdoa secara pribadi. Beberapa pengumuman lainnya dapat dibaca pada papan pengumuman yang dipasang di dekat pintu masuk ke Gua Maria Karmel. Tidak diperbolehkan mengambil foto.

Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda

Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda merupakan taman botanikal pertama di Indonesia yang juga dikenal dengan “Taman Dago Pakar” oleh masyarakat setempat. Diresmikan pada 14 Januari 1985 oleh presiden kedua RI Soeharto, pada awalnya taman ini dikenal sebagai Kawasan Hutan Lindung Gunung Pulosari dan Taman Wisata Alam Curug Dago. Taman Hutan Raya ini merupakan habitat dari tiga jenis mamalia, sekitar 30 jenis burung serta memiliki lebih dari 250 jenis pohon dari 40 familia dan 112 spesies. Taman Dago Pakar ini menempati wilayah seluas sekitar 526 hektar dan saat ini memiliki satu wahana baru, yaitu tempat penangkaran rusa di Bantar Awi (berada di antara Air Terjun Maribaya dan Gua Belanda, atau sekitar 2 kilometer dari Gua Belanda).

Taman Dago Pakar juga memiliki tiga air terjun (“curug” dalam Bahasa Sunda). Air terjun yang paling terkenal di sini adalah Air Terjun Omas atau disebut juga Air Terjun Maribaya (karena berlokasi di Maribaya). Air terjun Maribaya terletak kira-kira 5 kilometer di sebelah utara pintu masuk Taman Dago Pakar.

Selain untuk melihat wisata alam, di dalam Taman Dago Pakar juga terdapat gua Belanda (dibangun pada awal tahun 1910) dan gua Jepang (dibangun pada awal tahun 1940). Gua-gua ini dulu digunakan untuk berbagai macam kepentingan, seperti menyimpan makanan, amunisi, kepentingan komunikasi dan lain-lain.

Di dalam Taman Dago Pakar atau Taman Hutan Raya ini juga terdapat sebuah prasasti yang menyatakan kunjungan Raja Thailand Chulalongkorn II ke lokasi ini pada tahun 1896.


Lokasi:Kompleks Tahura Ir. H. Juanda No. 99 Dago Pakar, Bandung
Telepon:022 2515895
Fax:022 250 7891
Email:dishut@jabarprov.go.id
Website:www.tahuradjuanda.jabarprov.go.id
Jam operasional:setiap hari, pk. 8:00-17:00
Biaya masuk:Rp. 8.000/orang (wisatawan lokal) atau Rp. 50.500/orang (wisatawan asing), dan Rp. 20.000 untuk bus. Jika ingin menggunakan pemandu, biayanya sebesar Rp. 75.000-Rp.100.000
Fasilitas:pusat informasi dalam bahasa Inggris dan Indonesia; toilet; toko; mushola; taman bermain anak-anak; lintasan lari; area permainan outbound dengan tarif Rp. 20.000/orang (wisatawan dalam negeri) dan Rp. 100.000/orang (wisatawan asing) untuk min. 30 orang (flying fox, paint ball, dll); museum kecil mengenai Ir. H. Juanda; dan pemandu wisata lokal. Terdapat 5 rumah yang bisa disewa dengan tarif kamar Rp. 500.000 per malam;lapangan tenis yang bisa disewakan dengan biaya Rp. 50.000/jam
Cara menuju ke sana: Dengan angkot: naik angkot ke terminal Dago (tarif: Rp. 2.500), kemudian disambung dengan ojek ke Hutan Raya Ir. H. Juanda (ongkos: Rp. 15.000)
Dengan taksi: sekitar Rp 50.000 dari Jl. Asia Afrika
Jika Anda berminat untuk berjalan kaki dari terminal Dago, bersiaplah untuk menempuh jarak sekitar 3 kilometer
Keterangan:pilihan yang tepat untuk dikunjungi bagi Anda yang menyukai wisata alam. Biasanya Taman Dago Pakar ramai dikunjungi pada akhir pekan dan hari libur nasional.

Pagoda Budha "Vihara Vipassana"

Vihara menarik ini dibangun satu persatu oleh pengusaha kaya Indonesia yang berdarah Thailand melalui perusahannya pada tahun 1992 yang kemudian diresmikan oleh Menteri Agama pada tahun 1995.

Kisah dari Vihara Vipassana ini dimulai pada tahun 1985, di mana seorang biksu dari Thailand datang ke Bandung untuk bertapa. Pemeluk agama Budha setempat bersama dengan seorang biksu dari Thailand tersebut akhirnya bisa menyelamatkan area yang akan mereka gunakan untuk membangun Vihara Vipassana ini. Saat ini terdapat 7 orang biksu dari Thailand dan Indonesia yang tinggal di vihara ini untuk melakukan meditasi dan kebaktian.

Lokasi:Jl. Kol Masturi No. 69 (sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Lembang, dekat restoran "Sapu Lidi")
Telepon:022 2787664, 0819812009 (SMS)
Fax:022 2787665
Website:www.vipassanagraha.org
Email:khantide@vipassanagraha.org, kolmasturi69@yahoo.co.id
Jam operasional:setiap hari, pk. 7:00-17:00
Biaya masuk:gratis
Fasilitas:toilet, lahan parkir, toko buku, toko cinderamata, dan perpustakan
Fasilitas umum terdekat:rumah makan
Cara menuju ke sana:dengan angkot: naik dari terminal Ledeng ke arah Lembang (tarif: Rp. 3.000 dengan waktu tempuh selama 20 menit) dan turun setelah Anda melihat papan petunjuk jalan ke “Cisarua” di sisi kanan jalan (sebelah pos polisi atau kira-kira 6,5 kilometer dari terminal Ledeng). Lanjutkan dengan naik angkot yang menuju Cisarua (Rp. 3.000 dengan lama perjalanan 20 menit). Dengan ojek: dari terminal Ledeng (tarif: Rp. 10.000) atau dari Jalan Raya Lembang (tarif: Rp. 7.500 dengan waktu tempuh 30 menit)
Keterangan:Lembang (tarif: Rp. 7.500 dengan waktu tempuh 30 menit). Vihara akan sangat ramai terutama saat hari raya keagamaan, seperti Katina dan Waisak. Dianjurkan untuk mengenakan pakaian sopan (tidak mengenakan celana pendek, rok pendek, dan tank top). Pihak vihara menyediakan sarung yang bisa digunakan oleh para pengunjung yang mengenakan celana pendek. Lepas alas kaki Anda saat masuk ke dalam vihara. Kantin hanya buka pada hari Minggu.

Villa Isola

Villa Isola berlokasi di sebelah utara kota Bandung dan saat ini dikenal sebagai Bumi Siliwangi atau kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Gedung ini dibangun pada tahun 1932 dan dirancang oleh Wolff Schoemaker, arsitek yang juga merancang Museum Asia Afrika (Gedung Merdeka), Mesjid Cipaganti dan beberapa bangunan bernuansa art deco lainnya di Bandung.

Villa Isola awalnya dibangun untuk pengusaha kaya asal Hindia Belanda, D.W. Berretty, vila ini pun dianggap membawa keberuntungan baginya. Kemudian, vila pribadi ini dirubah menjadi sebuah hotel dan pada masa pendudukan Jepang gedung ini digunakan sebagai markas tentara mereka (awal tahun 1940). Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Villa Isola kembali berubah fungsi, kali ini menjadi institusi pendidikan. Sekarang vila ini menjadi bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Foto-foto bersejarah Villa Isola pada tahun 1930 dapat dilihat pada situs berikut ini: www.sjoerdm.dds.nl


Lokasi:Jl. Dr. Setiabudi No. 229
Telepon:022 2016444
Website:www.upi.edu
Email:humas@upi.edu
Biaya masuk:gratis
Fasilitas:toilet dalam kampus, pemandu dalam Bahasa Inggris, Indonesia, Perancis, Jerman (besar biayanya bisa dinegosiasikan langsung dengan pemandu)
Fasilitas umum terdekat:rumah makan, hotel, ATM, apotek, café
Tempat menarik terdekat:Kampung Gajah
Cara menuju ke sana:dengan angkot: naik yang menuju terminal “Ledeng” dan katakan pada sopir bahwa Anda ingin turun di Isola atau UPI (tarif: Rp. 3.000 dengan waktu tempuh 25 menit). Villa Isola terlihat jelas dari jalan raya dan terletak kurang lebih 500 meter sebelum terminal
Keterangan:disarankan untuk minta ijin terlebih dahulu dengan menghubungi bagian Humas di nomor telepon di atas, minimal satu minggu sebelum kedatangan. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada hari Sabtu pukul 8:00-16:00 saat tidak ada kegiatan perkuliahan. Tidak boleh masuk ke dalam gedung (kecuali atas izin rektor).

...Kebun Binatang :Halaman sebelumnya | Halaman berikut: Taman Wisata Maribaya...