Bukit Kasih | Gereja | Vihara



Bukit Kasih



Bukit Kasih diresmikan pada tahun 1999 oleh Gereja Bukit Sion di Sulawesi Utara, yang kemudian diambil alih oleh pemerintah provinsi pada tahun 2002 untuk dilakukan pengembangan. Di lokasi ini dibangun sebuah patung setinggi 22 meter yang dibangun sebagai simbol dari 5 agama di Indonesia.

Klik gambar di sebelah kiri untuk menampilkan beberapa foto Bukit Kasih yang lebih besar.

Pengunjung bisa melihat salib setinggi 38 meter dan pahatan dua wajah di tebing jurang dari jarak jauh. Jika Anda ingin menuju ke salib tersebut, Anda harus mendaki sebanyak 2.435 anak tangga mulai dari kantor informasi yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Di sana Anda akan diminta untuk mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela.

Disini juga terdapat juga bangunan atau tempat yang disiapkan untuk pengunjung yang ingin beribadah sesuai dengan agama mereka masing-masing: Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), Hindu dan Buddha. Jika Anda ingin menggunakan tempat ibadah ini dengan teman atau secara berkelompok, Anda sebaiknya memberitahu kantor informasi terlebih dahulu untuk pemesanan tempatnya. Namun, telepon atau internet belum tersedia di tempat ini, sehingga Anda harus memberitahukan kepada mereka secara langsung. Umumnya Bukit Kasih akan terlihat lebih ramai pada hari libur atau akhir pekan.

Selain hal-hal keagamaan, Anda juga dapat melihat sumber air panas dengan bau belerang yang kuat. Penduduk setempat menggunakan sumber air panas ini untuk merebus telur dan jagung, yang hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Satu butir telur rebus dijual seharga Rp. 5.000 dan satu jagung rebus seharga Rp. 2.000.

Di tempat ini juga tersedia sumber air hangat yang dapat digunakan pengunjung untuk memanjakan kaki mereka. Setelah beribadah, Anda dapat menikmati telur rebus dan memanjakan diri Anda di sumber air hangat tersebut. Anda juga bisa membeli cinderamata yang dibuat dan dijual oleh penduduk setempat. Harga sebuah gelang bambu sekitar Rp. 10.000.


Lokasi:Desa Kanonang, kurang dari 2 jam berkendara dengan mobil dari Manado pada hari biasa
Jam operasional:setiap hari, pk. 7:00–17:00
Biaya masuk:Rp. 1.000 per orang, Rp. 6.000 untuk minibus, Rp. 3.000 untuk mobil, dan Rp. 2.000 untuk sepeda motor
Fasilitas:kantor polisi, tempat istirahat di dekat pintu masuk, kios cinderamata, toilet, dan warung yang kebanyakan menjual makanan lokal, minuman kaleng (Rp. 6.000 untuk satu kaleng), dan bir (Rp. 20.000 untuk satu botol besar)
Cara menuju ke sana: Transportasi pribadi/ sewa mobil
Dengan angkutan umum: dari Terminal “Karombasan” di Manado naik bus yang menuju Tomohon (tarif bus dari Terminal Karombasan Manado ke Tomohon), kemudian naik lagi mikrolet yang menuju Desa Kawangkoan (Tomohon – Kawangkoan berjarak 20 kilometer yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit). Setelah itu naik ojek dari Desa Kawangkoan ke Desa Kanonang (sekitar 2 kilometer dengan tarif: Rp. 4.000), lalu dilanjutkan dengan naik ojek dari Kanonang ke Bukit Kasih, dengan tarif dan jarak yang hampir sama
Keterangan:tempat ini merupakan salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi di Manado/Minahasa. Tempat tujuan wisata lainnya, yaitu Watu Pinawetengan yang terletak tepat di belakang tempat ini. Anda akan melihat lebih banyak pengunjung dan mobil selama akhir pekan dan hari libur nasional. Selain itu, Anda akan bertemu dengan anak-anak yang menawarkan jasa foto dengan imbalan uang sukarela dari Anda.

Gereja

Gereja Sentrum

Gereja utama di Manado, yaitu Gereja Sentrum (“Gereja Pusat”), diyakini dibangun oleh VOC (serikat dagang Hindia Belanda) pada abad ke-19 dan dinamai ‘Oude Kerk’ atau “gereja lama” selama era kolonial Belanda. Kemudian namanya dikenal menjadi ‘Gereja Besar’ sebelum akhirnya disebut Gereja Sentrum.

Walaupun gereja ini sudah direnovasi beberapa kali, namun pondasi batu, beberapa dinding, dan pilarnya masih asli. Ratu Beatrix dari Belanda dan almarhum suaminya, Pangeran Claus menghadiri perbaikan gereja ini saat kunjungan mereka ke Manado pada tahun 1995.


Lokasi:Jl. Sarapung – Wenang
Jam operasional:setiap hari, pk. 6:00-21:00
Biaya masuk:gratis
Fasilitas:toilet, ATM, dan beberapa restoran di sekitarnya
Tempat menarik terdekat:Patung Dotu Lolong Lasut dan Taman Kesatuan Bangsa, Monumen Pasukan Worang Batalion
Cara menuju ke sana:dengan mikrolet: ke “terminal mikrolet Pasar 45”, lanjutkan dengan berjalan kaki sedikit atau minta sopir mikrolet untuk menurunkan Anda di dekat Gereja Sentrum
Keterangan:terdapat beberapa tempat menarik di sekitar Gereja Sentrum.

Vihara/Klenteng

Kelenteng Ban Hin Kiong

Menurut cerita, kelenteng tiga lantai ini diyakini sudah berusia lebih dari 300 tahun. Kuil ini dibangun selama pemerintahan Dinasti Qing (1644-1911 SM). Berlokasi di daerah “pecinan”, dekat “Kampung Arab”, Manado, kuil ini memiliki meriam kuno (tertanggal 1788 masehi) yang terletak di lantai atas dan pernah dimiliki oleh VOC (serikat dagang Hindia Belanda).

Klik gambar di sebelah kanan untuk menampilkan beberapa foto Kelenteng Ban Hin Koing yang lebih besar.

Sayangnya tidak ada catatan sejarah yang memberikan informasi yang jelas mengenai siapa yang sebenarnya berinisiatif dan membangun Kelenteng Ban Hin Kiong (yang berarti: “istana suci yang menebar kebahagiaan”).

Baik dulu maupun sekarang, tempat ini menjadi tempat beribadah umat Buddha yang tinggal di Manado dan sekitarnya. Kelenteng Ban Hin Kiong telah menjadi tengara penting Kota Manado.


Lokasi:Jl. Panjaitan, di sekitar Pecinan [sekitar 900 meter timur laut dari “Titik Nol”]
Jam operasional:setiap hari, pk. 6:00-21:00
Biaya masuk:gratis (donasi sukarela juga diharapkan)
Fasilitas:toilet, ATM/bank, dan supermarket terdekat
Tempat menarik terdekat:Monumen Titik Nol dan Pelabuhan Manado
Cara menuju ke sana:dengan mikrolet: pergi ke “terminal mikrolet Pasar 45”, lalu dari sana Anda bisa melanjutkan dengan berjalan kaki [sekitar 600 meter], atau minta sopir mikrolet untuk menurunkan Anda di dekat kuil ini
Keterangan:kuil-kuil baru lain yang lebih kecil terletak tepat di seberang jalan dan beberapa tempat menarik lain terdekat.

Vihara Buddayana

Vihara Buddayana terletak di kota yang beriklim sejuk, Tomohon, dan merupakan kuil Buddha utama di dataran tinggi Minahasa. Kuil ini dibangun pada tahun 1983. Ada beberapa patung Buddha, yang dapat dilihat pengunjung dari area parkir. Setiap gedung di biara Buddha ini dibangun pada tahun yang berbeda dan didonasikan oleh pihak/penyumbang yang berbeda-beda.

Klik gambar di sebelah kiri untuk menampilkan beberapa foto Vihara buddayana yang lebih besar.


Lokasi:Jl. Sunge, Desa Kakaskasen III Dusun I-57, Tomohon Utara
Telepon:0431 336088, 3328889, 0811 430881
Email:liongangliadi@yahoo.co.id, stisia@yahoo.com
Jam operasional:setiap hari, normalnya pada saat siang hari
Biaya masuk:gratis, namun sumbangan sukarela diharapkan
Fasilitas:toilet dan kios kecil cinderamata
Cara menuju ke sana:dari Terminal “Karombasan” di Manado naik bus yang menuju Tomohon, lalu disambung dengan mikrolet yang menuju ke pusat Tomohon. Katakan pada sopir bahwa Anda ingin pergi ke Vihara Buddayana (tarif: Rp. 2.700 untuk mikrolet)
Keterangan:kuil ini terlihat dari sisi kiri jalan utama Manado-Tomohon. Pengunjung diizinkan untuk mengambil foto dan diharapkan melepas sandal/sepatu setiap memasuki gedung. Disarankan untuk tenang dan tidak ribut.




...Hutan Hujan & Binatang :Hlmn sebelumnya | Hlmn berikut: Wisata Air...


Jangan lupa ikutan LIKE US yaaa




Komentar Anda:


Nama:

date

Komentar:

0 komentar

Isi komentar adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Anda sebagai pengirim komentar harus membaca dan sepenuhnya menyetujui Syarat dan Ketentuan Komentar Anda (klik disini), Syarat dan Ketentuan (klik disini) serta Kebijakan Privasi (klik disini) JoTravelGuide.com.



Kembali ke atas

jika menurut anda situs kami membantu memberikan informasi terkait, anda dapat menyumbang untuk membantu kelangsungan tayang situs ini, kami dapat menerima bantuan melalui tombol paypal "Donate" dibawah ini. terima kasih