versi cetak kesenian daerah tana toraja tarian tradisional dan musik toraja  

Kesenian Tradisional Tana Toraja

Tarian Tradisional | Musik Tradisional | Upacara Tradisional


TARIAN TRADISIONAL

Tari Pa’gellu

Tarian ini biasanya dibawakan oleh remaja (biasanya gadis), selama perayaan ucapan syukur, seperti pernikahan, panen, dan untuk menyambut tamu-tamu pada upacara formal. Para gadis menggunakan aksesoris yang terbuat dari emas dan perak dan terdapat dua atau empat remaja laki-laki yang memainkan genderang untuk mengiringi tarian.

Klik di sini untuk menyaksikan Tari Pa’gellu: www.youtube.com


Bone Balla’ or Ondo Samalele

Para wanita dan remaja perempuan dari sebuah keluarga besar, yang baru saja menyelesaikan pembangunan Tongkonan mereka, menyajikan tarian ini untuk menunjukan rasa syukur mereka. Tarian ini diiringi oleh lagu yang disebut “Passengo”, sebuah musik untuk memuji Tuhan. Pada bagian akhir tarian, semua anggota keluarga ikut ambil bagian dalam tarian.

MUSIK TRADISIONAL

Passuling

Ini merupakan seruling tradisional Toraja, yang juga dikenal dengan nama “Suling Lembang”. Seruling dimainkan oleh kelompok laki-laki untuk mengiringi “Pa’Marakka” atau lagu duka yang dinyanyikan oleh para wanita. Mereka membawakan seni tradisional ini untuk menyambut tamu, yang hadir untuk menyampaikan rasa duka mereka kepada keluarga yang sedang berduka.

Pa’pelle/Pa’barrung

Sebuah alat musik yang terlihat seperti terompet, terbuat dari jerami yang dirakit dengan daun kelapa. Biasanya dimainkan selama upacara pengucapan syukur setelah menyelesaikan pembangunan rumah Tongkonan.

Pa’pompang/Pa’bas

Pa’pompang merupakan sebuah orkestra bambu yang dimainkan oleh murid yunior selama upacara nasional, seperti Hari Kemerdekaan, ulang tahun kota, dan festival nasional. Para murid memainkan lagu-lagu kontemporer, lagu daerah, dan lagu gereja.

Pa’tulali

Sebuah alat musik bambu berukuran kecil yang dimainkan dengan cara ditiup untuk menghasilkan suara yang indah.

Pa’geso’geso’

Sebuah alat musik yang terbuat dari kayu dan batok kelapa dengan senar.

UPACARA TRADISIONAL

Di kebudayaan Toraja, babi dan kerbau adalah hewan-hewan utama untuk dikorbankan pada setiap upacara, terutama Rambu Solo atau upacara pemakaman Toraja dan Rambu Tuka atau upacara pengucapan syukur Toraja. Sebagai hewan yang istimewa, harga kerbau di Toraja bisa sangat mahal dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Satu kerbau “putih” besar harganya bisa mencapai sepuluh juta rupiah.

Rambu Tuka (Upacara Pengucapan Syukur)

Ini adalah upacara tradisional yang diadakan oleh sebuah keluarga atau bahkan seluruh desa. Biasanya disertai dengan mengorbankan ayam, babi atau kerbau untuk menunjukan rasa syukur kepada Tuhan atas musim panen atau “Tongkonan” baru.

Sebagai bagian dari upacara, tari Manimbong akan dibawakan oleh laki-laki yang memakai pakaian tradisional khusus yang disebut “Baju Pokko” dan “Seppa Tallu Buku”, yang dihiasi dengan parang kuno.

Klik di sini untuk menyaksikan Rambu Tuka: www.youtube.com.


Rambu Solo (Upacara Pemakaman)

“Rambu Solo” merupakan upacara pemakaman terbesar di Tana Toraja yang diadakan oleh keluarga duka. Keluarga harus mempersembahkan banyak kerbau besar, babi, dan binatang lain pada upacara ini, tergantung pada status sosial dari keluarga duka. Biasanya upacara ini menjadi daya tarik yang cukup besar bagi para wisatawan.

Dipengaruhi oleh kepercayaan setempat, yaitu “Aluk Todolo”, orang Toraja percaya bahwa hal buruk mungkin terjadi jika keluarga yang ditinggalkan tidak mengadakan upacara, tetapi saat ini banyak keluarga melakukan Rambu Solo ini sebagai bagian dari tradisi mereka.

Upacara Rambu Solo terdiri dari beberapa jenis, yaitu “Disilli”, yaitu upacara pemakaman untuk anak-anak atau balita dengan mengorbankan satu ekor babi saja; “Dipasangbongi”, yaitu upacara pemakaman untuk remaja dan orang dewasa dari kelas terendah, yang biasanya berlangsung semalman dengan mengorbankan satu kerbau dan empat babi; “Dipatallung Bongi”, yaitu upacara pemakaman untuk kelas menengah yang dilakukan selama tiga malam dengan mengorbankan empat kerbau dan banyak babi; “Dipapitung Bongi”, yaitu upacara pemakaman selama tujuh hari untuk kelas paling tinggi dengan mengorbankan banyak kerbau dan babi; dan “Dirapai”, yaitu upacara pemakaman termewah untuk kelas sosial paling tinggi yang berlangsung selama lebih dari satu tahun dan membutuhkan sekitar 24 kerbau dan ratusan babi besar untuk dikorbankan.

Di bawah ini adalah beberapa ritual yang menjadi bagian dari upacara ini.

Klik di sini untuk menyaksikan Rambu Solo: www.youtube.com.


Ma’pasilaga Tedong

Ini adalah adu kerbau air atau dikenal sebagai "Ma'pasilaga Tedong ". Adu kerbau adalah salah satu bagian hiburan pada upacara pemakaman. Berbeda dengan banteng di Spanyol yang dilakukan antara matador dengan seekor, banteng, adu kerbau di Toraja ini hanya dilakukan oleh dua ekor kerbau saja.

Klik di sini untuk menyaksikan Ma’pasilaga: www.youtube.com.


Sisemba

Ini adalah sebuah "pertunjukkan" dari sekelompok laki-laki atau anak laki-laki yang mencoba memukul atau menendang kaki lawan hanya dengan menggunakan kaki mereka, sehingga terlihat seperti sedang berperang. "Perkelahian" ini dianggap sebagai sebuah permainan yang adil, karena tidak pernah "menyerang" seseorang yang berada di tanah sambil mengangkat tangannya.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan budaya semacam ini, ini dapat dilihat sebagai pertandingan keras. Sama seperti beberapa orang yang tidak suka tinju atau permainan kasar lain karena alasan yang sama. Namun, pertunjukkan tradisional ini menjadi hal yang langka untuk dilihat saat ini.

Klik di sini untuk menyaksikan Ma’pasilaga: www.youtube.com.


Ma’tinggoro Tedong / Pembantaian Kerbau

Sebuah tradisi di mana seorang pria menebas leher kerbau yang sudah ditambatkan pada sebuah batu besar dengan golok tajam. Ini adalah prosesi akhir dari ritual "Rambu Solo".

Untuk sebagian orang, prosesi ini dapat dilihat sebagai suatu tindakan kejam, namun untuk sebagian orang lagi mungkin saja mereka melihatnya dari perspektif yang berbeda, seperti dari sudut pandang budaya dan sebagainya. Sama seperti di negara lain, beberapa orang bisa menerima konsep adu banteng (antara manusia dan banteng = "matador") tetapi ada juga yang tidak dapat menerimanya.

Klik di sini untuk menyaksikan Ma’tinggoro Tedong: www.youtube.com (bisa dikategorikan sebagai video yang mengandung unsur kekerasan, jangan di klik/tonton jika Anda tidak menyukai tayangan yang mengandung unsur kekerasan).







Komentar Anda:


Nama:

date

Komentar:

0 komentar

Isi komentar adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Anda sebagai pengirim komentar harus membaca dan sepenuhnya menyetujui Syarat dan Ketentuan Komentar Anda (klik disini), Syarat dan Ketentuan (klik disini) serta Kebijakan Privasi (klik disini) JoTravelGuide.com.



Kembali ke atas


jika menurut anda situs kami membantu memberikan informasi terkait, anda dapat menyumbang untuk membantu kelangsungan tayang situs ini, kami dapat menerima bantuan melalui tombol paypal "Donate" dibawah ini. terima kasih