versi cetak makam tradisional toraja  

Makam Unik Khas Tana Toraja

Bori | Deri dan Lempo | Batutumonga | Lo'komata | Pangala | Pana | Pangli | Londa | Kambira | Palatokke | Tondon Marante




Batu-batu Makam

Hampir semua batu-batu besar di setiap desa yang dilewati pengunjung selama perjalanan digunakan oleh penduduk lokal sebagai makam. Lo?komata merupakan batu makam terbesar yang ditemui di Tana Toraja. Dibawah ini kami ulas beberapa informasi lebih lanjut mengenai Lo?komata dan batu-batu makam tradisional lainnya.

Bori

Bori adalah tempat di mana pengunjung akan menemukan ratusan megalith kuno yang digunakan penduduk setempat untuk mengadakan upacara pemakaman. Ada 114 megalith di sini dan megalith tertinggi tercatat setinggi sekitar 7 meter.

Klik gambar di sebelah kanan untuk melihat beberapa foto Bori yang lebih besar.


Lokasi:sekitar 6 kilometer ke sebelah utara Rantepao
Biaya masuk:Rp. 5.000 untuk orang Indonesia dan Rp. 10.000 untuk orang asing
Fasilitas:toilet. Untuk pengunjung yang ingin melihat upacara yang sedang berlangsung, disediakan panggung khusus atau area bagi Anda, yang dipisahkan dari keluarga/sanak saudara dari orang yang sudah meninggal
Cara menuju ke sana:dengan pete-pete (tarif: Rp. 6.000) atau dengan ojek (biasanya Rp. 10.000 atau tergantung dari negosiasi)
Keterangan:Tidak ada area khusus untuk parkir di sini.

Deri dan Lempo

Ada beberapa batu besar yang juga menjadi makam di dalam area ini. Batu-batu biasanya diletakkan di sawah, di mana terkadang penduduk lokal membangun rumah Tongkonan di atas makam tersebut.


Lokasi:sekitar 6 kilometer dari Rantepao, searah dengan jalan ke Batutumonga
Cara menuju ke sana:dengan transportasi umum: dari Terminal Bolu ditempuh selama kurang lebih satu jam
Keterangan:bisa dijangkau dalam waktu 30 menit jika kondisi jalan dalam keadaan baik dan tidak hujan.

Batutumonga

Batutumonga adalah titik awal untuk mendaki Gunung Sesean yang memiliki ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut. Dalam perjalanan ini para pengunjung akan disuguhi dengan pemandangan indah dari Bori Atas, Deri/Lempo hingga Batutumonga, di mana mereka akan disambut dengan sawah-sawah yang menghijau dan batu-batu bulat besar, persembahan dari alam. Uniknya, adalah pemilik sawah menggunakan batu-batu ini sebagai makam orang yang mereka cintai.

Jalan ke Batutumonga cukup sempit, di mana di beberapa belokan pengunjung akan menemukan batu-batu besar terletak di pinggir jalan. Pengunjung juga akan melihat pemandangan menakjubkan dari kota Rantepao dan lembah Sa'dan dari sini.


Klik gambar di atas untuk melihat beberapa foto Batutumonga yang lebih besar.


Lokasi:sekitar 22 kilometer ke arah utara Rantepao di kaki Gunung Sesean
Cara menuju ke sana:dengan transportasi umum apapun yang menuju Batutumonga dari terminal Bolu (tarif: Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000), atau dengan ojek (tarif tergantung dari negosiasi). Total waktu perjalanan dari Rantepao ke Batutumonga adalah sekitar 1,5 jam dengan mobil
Keterangan:jalan ke Batutumonga dan area terdekat bisa sangat berbahaya selama musim hujan (Oktober hingga Maret), terutama pada bulan Desember. Tanah longsor juga bisa terjadi dan tidak ada sinyal telepon selular.

Lo'komata

Meninggalkan Batutumonga dalam perjalanan ke Lembang Tonga Riu, pengunjung akan menemukan sebuah batu besar (berdiameter sekitar 20 meter) di sisi kanan jalan. Batu raksasa ini terlihat seperti "kepala" dengan rambut berwarna hijau (yaitu rumput). Penduduk lokal juga menggunakan batu ini sebagai makam dan hal ini sudah mereka lakukan sejak abad ke-14. Ada sekitar 100 makam dipahat pada batu ini. Pengunjung juga akan menemukan makam normal/umum lainnya di dekat batu ini.

Klik foto Lo'komata di atas menampilkan beberapa foto yang lebih besar.


Lokasi:di Lembang Tonga Riu, sekitar 30 kilometer ke arah utara Rantepao
Cara menuju ke sana:dari Rantepao, naik angkutan umum manapun yang terhubung dengan Lo'komata (tarif: sekitar Rp. 20.000 untuk satu kali jalan)
Keterangan:hati-hati dengan batu-batu besar pada kedua sisi jalan di beberapa belokan.

Pangala

Pangala adalah sebuah kota kecil, di mana wisatawan biasa pergi setelah mengunjungi makam tradisional sebelum menuju kembali ke Rantepao atau Makale. Ada juga monumen Pontingku, seorang pahlawan setempat yang berjuang melawan Belanda. Pongtiku ditangkap oleh pasukan Belanda pada tahun 1906. Untuk mengenang aksi heroiknya, pemerintah kabupaten Toraja membangun monumennya di sini, di tengah kolam di pusat kota Pangala.

Di dekat Pangala terdapat desa Baruppu, desa di mana Pongtiku membangun sebuah benteng selama perang melawan Belanda. Namun sayangnya kondisi jalan ke Baruppu masih membutuhkan beberapa perbaikan.


Lokasi:sekitar 32 kilometer ke arah barat laut dari Rantepao
Cara menuju ke sana:naik transportasi umum dari terminal Bolu, minta sopir untuk menurunkan Anda di Pangala. Memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di sana dan biayanya sebesar Rp. 30.000 per orang untuk sekali jalan
Keterangan:rute yang direkomendasikan untuk mengunjungi makam-makam di atas biasanya dimulai dari Bori - Deri - Lempo - Batutumonga - Lo'komata - Pangala.

Pana

Pana adalah sebuah desa yang dikenal dengan makam-makam alaminya yang dibangun di atas tebing. Makam-makam ini sudah ada sejak beberapa abad lalu. Ada juga sebuah pohon yang digunakan untuk mengubur mayat-mayat bayi, di mana pengunjung masih dapat melihat potongan-potongan pakaian yang digunakan untuk menutupi mayat.

Klik gambar di sebelah kiri untuk melihat beberapa foto Pana yang lebih besar.


Lokasi:12 kilometer arah barat Rantepao
Cara menuju ke sana:naik pete-pete yang menuju ke Batutumonga dari Rantepao (tarif kira-kira Rp. 15.000). Biasanya Anda akan diturunkan di jalan utama, yang letaknya sekitar 3 kilometer dari pintu masuk. Sangat direkomendasikan untuk menggunakan ojek untuk mencapai tempat ini
Keterangan:karena area makam dipenuhi banyak pohon besar, akan lebih baik untuk mengunjungi makam ini pada siang hari.

Kembali ke atas


Pangli

Ini adalah sebuah situs pemakaman Paulus Pong Massangka, salah satu orang Toraja yang dituduh telah membunuh misionaris pertama Belanda yang datang ke daerah ini. Mayatnya diletakkan di "Patane" atau sebuah makam yang mirip dengan rumah Tongkonan. 'Tau-tau' (sebuah patung kayu dari orang yang sudah mati) Paulus Pong Massangka diletakkan di depan rumah Tongkonan dan tanggal kelahiran dan kematiannya diukir di kursi batunya.

Klik gambar di sebelah kanan untuk menampilkan beberapa foto Pangli yang lebih besar.


Lokasi: sekitar 8 kilometer ke arah timur laut Rantepao (dekat dengan SD 46 Pangli)
Biaya masuk:Rp. 5.000 untuk orang Indonesia dan Rp. 10.000 untuk orang asing
Cara menuju ke sana:naik pete-pete dari Rantepao yang menuju Pangli (tarif: Rp. 4.000) atau naik ojek dengan tarif yang bisa dinegosiasi.

Londa

Londa terkenal dengan makam-makamnya yang dibangun di atas tebing. Tebing yang tingginya sekitar 100 meter ini memiliki dua "gua makam". Gua pertama kedalamannya hanya sekitar 10 meter dan dipenuhi banyak "Erong" (sebuah peti kayu tua) dan tulang belulang dan tengkorak manusia yang berserakan. Gua kedua, meskipun kedalamannya hanya sekitar 1,5 kilometer, hanya 30 meter pertama saja yang dipenuhi dengan Erong, tengkorak, tulang belulang, dan berbagai macam barang milik orang-orang yang sudah meninggal pada semasa hidup mereka.

Di dalam gua kedua, ada sepasang tengkorak dari "Romeo dan Juliet"-nya Toraja. Pasangan ini bunuh diri bersama-sama setelah kedua keluarga tidak menyetujui hubungan mereka. Mayat mereka dibawa dan disimpan di dalam gua ini hingga sekarang. Pemandu yang diijinkan untuk mengawal pengunjung ke situs ini, hanyalah kerabat dari orang mati yang dikubur di sini. Pengunjung juga akan melihat beberapa Tau-tau (patung kayu dari orang yang mati) yang ditempatkan di balkon yang dibangun di dekat makam.

Klik gambar di atas untuk melihat beberapa foto Londa yang lebih besar.


Lokasi:Lembang Sangbua', di kecamatan Kesu (sekitar 5 kilometer ke selatan Rantepao)
Biaya masuk:Rp. 5.000 untuk orang Indonesian dan Rp. 10.000 untuk orang asing. Sewa senter: Rp. 20.000 dan untuk pemandu tidak ada standar biaya pastinya (biasanya Rp. 20.000 atau tergantung dari kemurahan hati pengunjung)
Fasilitas:toko cinderamata, area parkir, kios (menjual minuman ringan), area untuk duduk/beristirahat, dan toilet
Cara menuju ke sana:dengan pete-pete yang menuju Rantepao dari Makale atau sebaliknya (tarif: Rp. 3.000). Turun tepat di jalan yang menuju Londa lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki kira-kira 20 menit atau 5 menit dengan mobil atau ojek (tarif tergantung pada negosiasi, yang seharusnya sekitar Rp. 10.000)
Keterangan:kondisi jalan sangat buruk. Dilarang untuk keluar melalui jalan yang sama ketika pengunjung memasuki area ini. Pengunjung harus mengikuti rute seperti yang terlihat pada papan di dekat pintu masuk. Dari sini akan lebih baik jika dilanjutkan dengan mengunjungi tempat-tempat menarik terdekat di Lemo dan karena tempat kunjungan Anda ini adalah gua, maka waktu terbaik untuk mengunjungi Londa adalah saat siang hari sebelum matahari terbenam.

Kambira

Ini adalah sebuah tempat di mana Anda bisa melihat sebuah pohon besar yang digunakan untuk "mengubur" bayi yang meninggal. Penduduk lokal memiliki tradisi mereka sendiri untuk mengubur mayat bayi dalam sebuah pohon besar dengan membuat lubang pada pohon dan meletakan mayat di dalamnya, lalu menutupinya dengan serat kelapa sawit. Makam Bayi Kambira ini dikelilingi oleh pohon-pohon bambu.

Klik foto Kambira di sebelah kiri untuk menampilkan beberapa foto yang lebih besar.


Lokasi:Sangalla, sekitar 9 kilometer ke arah utara Makale
Biaya masuk:Rp. 5.000 untuk orang Indonesia dan Rp. 10.000 untuk orang asing
Cara menuju ke sana:dengan transportasi umum: naik pete-pete yang menuju Sangalla dari Makale dan minta sopir untuk menurunkan Anda di Kambira (waktu tempuh sekitar 20 menit dan biayanya Rp. 10.000)
Keterangan:berhati-hatilah dengan lipan yang ada di tanah.

Palatokke

Palatokke adalah sebuah lokasi di mana Anda bisa melihat "makam gantung" dan peti-peti kunonya. Menurut dongeng, dahulu kala ada seorang laki-laki yang disebut Palatokke, yang memiliki kekuatan magis untuk membangun gua-gua di atas tebing sendirian. Penduduk lalu menamakan daerah atau tebing-tebing ini sebagai Palatokke untuk mengakui kekuatan magis dan usaha Palatokke.

Pengunjung dapat memanjat dan masuk ke dalam makam melalui tangga curam yang dibuat di dekatnya yang tingginya sekitar 200m.

Seperti situs lainnya, terdapat pemandangan indah dari sawah-sawah yang berada di sekitar Palatokke.


Klik gambar di sebelah kanan untuk melihat beberapa foto Palatokke yang lebih besar.


Lokasi:sekitar 12 kilometer ke arah tenggara dari Rantepao atau sekitar 3 kilometer dari Ke'te Kesu
Biaya masuk:pada hari biasa dan Sabtu akan ada penduduk lokal yang meminta tarif masuk, tapi pada hari Minggu, biasanya tidak akan ada orang yang meminta tarif masuk ke tempat ini. Anda sebaiknya membayar sekitar Rp. 10.000 untuk pemandu lokal. Beberapa pemandu yang Anda temui mungkin adalah anak-anak kecil yang tinggal di dekat area ini
Cara menuju ke sana: Dengan mobil atau ojek memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit dari Rantepao (biaya ojek sekitar Rp. 20.000)
Dengan pete-pete atau minibus: naik yang menuju ke "Labo" dari terminal Bolu di Rantepao dan minta pada sopir untuk menurunkan Anda di Palatokke (tarif: Rp. 10.000).

Tondon Marante

Ini adalah sebuah desa di mana Anda dapat melihat gua-gua makam alami, "Erong" atau peti mati, rumah tradisional Toraja Tongkonan, dan Tau-tau. Namun sayang, kondisi Tondon Marante saat ini kurang bagus. Karena kondisi ini, akhir-akhir ini tidak tersedia akses bagi pengunjung untuk memasuki gua makam. Tondon Marante terletak sekitar 100 meter dari jalan utama.


Klik gambar di atas untuk menampilkan beberapa foto yang lebih besar dari Tondon Marante.


Lokasi:sekitar 4 kilometer ke arah timur laut dari Rantepao pada jalan trans dari Makassar ke Palopo
Biaya masuk:biasanya Rp. 5.000 untuk orang Indonesia dan Rp. 10.000 untuk orang asing
Cara menuju ke sana:naik pete-pete dari Rantepao yang menuju Marante atau desa Tondon dan minta pada sopir untuk menurunkan Anda di sana (lama perjalanan sekitar 15 menit dengan tarif Rp. 3.000)
Keterangan:perlu perbaikan kondisi jalan.




...Beranda Toraja :Hlmn sebelumnya | Hlmn berikut: Rumah Tradisional...





Komentar Anda:


Isi komentar adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Anda sebagai pengirim komentar harus membaca dan sepenuhnya menyetujui Syarat dan Ketentuan Komentar Anda (klik disini), Syarat dan Ketentuan (klik disini) serta Kebijakan Privasi (klik disini) JoTravelGuide.com.





Nama:

JoTravelGuide 9 Okt 2012

Komentar:

Terima kasih untuk dukungan untuk pariwisata Tana Toraja dan kunjungan ke situs kami. Kami tunggu kunjungan Anda selanjutnya. Salam dari JoTravelGuide.com.

Nama:

maria venny lolo parrung 6 Okt 2012

Komentar:

sbelumnya sy ucapkan terima kasih banyak atas informasi yg telah d lampirkan... sy sangat terbantu skali dgan infox. smoga tanah toraja utara maju pesat..

Kembali ke atas


jika menurut anda situs kami membantu memberikan informasi terkait, anda dapat menyumbang untuk membantu kelangsungan tayang situs ini, kami dapat menerima bantuan melalui tombol paypal "Donate" dibawah ini. terima kasih