Iklan

Selamat datang di Manado, ibukota propinsi Sulawesi Utara, yang juga merupakan kota kembar dari kota General Santos di Filipina. Kota yang berpenduduk sekitar 500.000 jiwa ini (tahun 2007) dikenal juga sebagai kota seribu gereja. Di Manado wisatawan akan melihat gereja di hampir setiap ratusan meter, khususnya jika mengarah ke Tomohon/Tondano. Sulawesi Utara sendiri memiliki beberapa kabupaten yang terdiri dari kota Manado (seluas 157 km2), kota Tomohon, kota Bitung (kota kembar dari Davao di Filipina), Minahasa Utara, Minahasa Tengah (kota kembar dari Rhode Island USA), Minahasa Selatan, dan sebagainya. Total populasi di Sulawesi Utara mencapai lebih dari 2.2 juta jiwa.


...gereja di hampir setiap beberapa ratus meter...


Penduduk asli Sulawesi Utara adalah suku Minahasa. Bahasa yang mereka gunakan juga disebut bahasa Minahasa dimana ada sedikit perbedaan dialek yang diucapkan antara penduduk di wilayah bagian Utara, Tengah dan Selatan. Secara harafiah, Minahasa berarti “kesatuan” atau “menjadi satu kesatuan”. Penduduk setempat mulai menyebut dirinya Minahasa setelah peperangan antar kerajaan di Sulawesi Utara yang terjadi beberapa abad yang lalu.

Masyarakat Minahasa mempunyai mitos bahwa mereka adalah keturunan Toar dan Lumimuut, sepasang kekasih yang sebenarnya adalah ibu dan anak. Lumimuut adalah wanita cantik keturunan dewa yang mempunyai ke-awet-muda-an abadi. Keturunan mereka kemudian pecah menjadi tiga golongan yang terdiri dari golongan agamawan, golongan pejabat dan golongan masyarakat awam. Hal ini diyakini berdasarkan kejadian yang terjadi pada pertengahan abad 600 SM dimana sekelompok golongan masyarakat awam berkumpul untuk membahas batas wilayah dan perundang-undangan diantara mereka di suatu wilayah yang disebut Pinawetengan (klik di sini untuk informasi lebih lanjut tentang Pinawetengan). Mereka menggambar garis dan symbol di sebuah batu besar, yang masih dapat dilihat sampai sekarang.


...peradaban berusia 1400 tahun...


Penjelajah dari Eropa (khususnya bangsa Portugis dan Spanyol) mulai menyebarluaskan pengaruh budaya mereka terhadap suku Minahasa di awal tahun 1500 dan memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat Minahasa untuk pertama kalinya dipertengahan tahun 1540. Penyebaran agama ini dipimpin oleh salah satu pendeta asal Spanyol yang ternama, Fr. Francis Xavier, yang akhirnya meninggal di Cina beberapa tahun kemudian. Seratus tahun setelah Fr. Francis Xavier meninggalkan Minahasa, misionaris Belanda datang dan mengajar Kekristenan kepada masyarakat lokal. Hampir semua masyarakat Minahasa kemudian dibaptis pada akhir tahun 1880. Sementara dari sisi pemerintahan, di tahun 1670-an pemerintah Hindia Timur Belanda mengambil alih pelabuhan Manado dan juga menandai dimulainya penjajahan di Sulawesi Utara. Pengaruh Eropa ini juga tetap dapat dilihat pada batu-batu/nisan-nisan kuno Waruga (klik di sini untuk informasi lebih lanjut tentang Waruga).

Hingga saat ini masyarakat Minahasa masih suka berkumpul dengan mengadakan pesta ataupun pengucapan syukur, yang mana hal ini dianggap sebagai pengaruh dari kebudayaan Spanyol dan Portugis. Hari Pengucapan syukur biasanya diselenggarakan sekali setahun di sekitar bulan Juli dan Agustus setiap hari Minggu secara bergilir dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Ini adalah saat dimana pengunjung bisa menikmati hidangan makanan tanpa dipungut biaya!


 
Musik tradional Kolintang
 
Sarana transportasi di desa
 
Patung ini disebut sebagai patung Yesus terbesar kedua di dunia
 

Dulu, bagian timur laut Sulawesi Utara terkenal kaya akan rempah-rempah. Sebuah desa bernama Sonder di Minahasa Induk pernah terkenal karena cengkehnya. Desa ini menjadi salah satu desa terkaya di Asia tahun 1970 sampai 1980 sebelum seseorang yang saat itu bisa dikatakan sangat berkuasa mengambil masa kejayaan penduduk Sonder. Menurut cerita penduduk setempat, petani cengkeh dipaksa menjual cengkeh mereka dengan harga rendah ke satu perusahaan, yang mana perusahaan tersebut menjual kembali cengkeh-cengkeh petani Sonder dengan harga tinggi ke pihak ketiga. Sekarang desa ini sama seperti desa-desa lainnya di Sulawesi Utara.

Menuruni daerah pegunungan menuju teluk Manado, di sana terdapat taman laut terkenal, Bunaken, yang juga merupakan taman laut terbaik dunia (klik di sini untuk informasi lebih lanjut tentang Bunaken). Seperti masyarakat Indonesia kebanyakan, orang umumnya mengenal Manado atau Minahasa hanya karena Bunaken atau Selat Lembeh. Di situs ini, Anda akan melihat bahwa ternyata Manado atau Minahasa juga memiliki banyak obyek wisata lainnya.


...aktivitas bawah laut dan pegunungan...


Makanan suku Minahasa berbeda dengan makanan orang-orang di bagian Barat Indonesia. Orang Minahasa dapat dikatakan memakan hampir semua jenis hewan dan juga suka dengan makanan yang sangat pedas dan berbumbu tajam. Ada lelucon terkenal diantara suku Minahasa sendiri, yaitu “semua yang berkaki bisa dimakan kecuali kaki meja dan kaki manusia!” Klik Makanan, Minuman dan Hiburan di kolom sebelah kiri untuk informasi lebih lanjut tentang hidangan khas masyarakat Minahasa.

Selain memakan makanan yang tidak biasa, mereka juga mempunyai cara unik dalam menemukan arah. Jika anda hendak pergi ke hotel-hotel kecil atau toko cinderamata di kota Manado, sebagian besar dari penduduk Manado justru tidak akan tahu jika pengunjung bertanya dengan hanya menyebutkan alamatnya saja (kecuali jika mereka sering bepergian di dalam kota!). Umumnya Anda harus menyebutkan suatu patokan besar seperti gedung atau kecamatan tempat tujuan anda. Misalnya “hotel kecil ABC dekat gereja Kathedral” atau “dekat markas Polisi”, “rumah sakit ABC di Kecamatan Malalayang” atau “dekat patung Sam Ratulangi”.

Manado/Minahasa, yang juga merupakan rumah bagi Tarsius, (jenis monyet terkecil di bumi), adalah tempat untuk pencinta sinar matahari di pantai dan juga bagi pecinta kesejukan udara di dataran tinggi, serta melihat kehidupan bawah laut dan melihat gunung api yang masih aktif.

Selamat berlibur!



Kembali ke atas

Iklan