Padang, Indonesia

Kota Padang adalah ibukota Provinsi Sumatera Barat yang dialiri oleh dua buah sungai bernama Sungai Muara dan Sungai Batang Kuranji. Selain terkenal dengan makanan pedas dan “nasi Padang”nya, kota ini juga dikenal dengan legenda “Siti Nurbaya” dan “Maling Kundang”. Makam Siti Nurbaya dapat dilihat di puncak Gunung Padang, sedangkan legenda batu si anak durhaka, Maling Kundang, dapat dilihat di salah satu pantai yang mempesona, yaitu Pantai Air Manis.

…sebuah kota pesisir dengan legenda masyarakat yang terkenal…


Luas wilayah Padang tercatat sebesar 690 km2 dengan populasi hampir mencapai 870.000 penduduk pada tahun 2009. Karena berlokasi di pesisir pantai, suhu udara Padang cukup tinggi, yaitu sekitar 30-34°C. Padang juga memiliki pantai yang paling banyak dikunjungi oleh penduduk setempat bernama Pantai Padang.

Tidak seperti budaya di Indonesia pada kebanyakan, yang memiliki sistem patrilineal (hubungan keturunan melalui garis laki-laki), budaya Padang atau Sumatera Barat pada umumnya menggunakan sistem matrilineal (hubungan keturunan melalui garis perempuan), di mana garis keturunan ditelusuri melalui leluhur dari bagian ibu dan harta benda diwariskan melalui garis perempuan. Karena itulah Padang disebut sebagai ibu pertiwi.

…Padang sebagai Ibu Pertiwi…


Sejarah kota Padang dimulai pada abad ke-16 ketika Minangkabau (sekarang Padang) dipimpin oleh Adityawarman. Satu abad kemudian, Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) datang dan memulai bisnis di kota Padang. Dengan izin Rang Kayo Kaciak—seorang penghulu atau pemimpin suku, VOC membuat sebuah gudang besar untuk menyimpan barang-barang. Akibatnya, Sungai Batang Arau pun berubah menjadi kawasan pelabuhan dengan dibangunnya Pelabuhan Muara di Sungai Muara Padang, yang kemudian berkembang menjadi pelabuhan yang sibuk. Pada kala itu daerah Padang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh.

Akan tetapi VOC akhirnya mendominasi politik dan perdagangan di Padang yang menyebabkan ketidakpuasan di antara penduduk pribumi. Mereka menyerang Belanda dan mengambil alih gudang milik Belanda di Sungai Muara, Padang. Insiden ini terjadi pada 7 Agustus 1669, yang kemudian ditandai sebagai hari jadi kota Padang. Sekarang Padang berkembang menjadi kota besar di Sumatera Barat, di mana pariwisata mengambil peran penting dalam ekonomi regionalnya.

…Jam Gadang, Rumah Gadang, dan Bukittinggi…


Penduduk asli di Sumatera Barat disebut Minang dan mereka berbicara dalam dialek Minangkabau. Beberapa orang Minang masih tinggal di rumah tradisional Minangkabau yang bernama “Rumah Gadang”, di mana atapnya berbentuk menyerupai tanduk kerbau. Juga terdapat Jam Gadang di Bukittinggi yang merupakan jam besar pemberian Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris kota Bukittinggi pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Jam ini menjadi ciri khas Sumatera Barat. Peninggalan berupa Gua/Lobang Jepang (gua peninggalan Jepang yang oleh penduduk setempat disebut dengan “Lobang Jepang”) dan Fort de Kock milik Belanda juga dapat ditemukan di Bukittinggi yang berudara sejuk.

Banyak wisatawan pergi ke kota Padang sebagai kota singgah sebelum mereka menuju Bukittinggi, atau sebelum berwisata ke bagian barat Padang, yaitu ke Kepulauan Mentawai dan Pulau Sikuai untuk menyelam dan berselancar. Tidak hanya menikmati wisata budaya, bersantai dan memancing di Danau Maninjau dan Danau Singkarak juga merupakan pilihan yang layak untuk dicoba.

Beragam petualangan menunggu Anda di sini. Dapatkan pengalaman liburan yang tidak terlupakan di kota Padang dan sekitarnya!


Halaman berikut...