Toraja, Indonesia

Selamat datang di “Tana Toraja”, sebuah kawasan unik di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki iklim sejuk karena berada di dataran tinggi. Kawasan ini meliputi area sekitar 3.000 km2 dan terletak kira-kira 300 kilometer dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Orang Toraja” adalah cara penduduk asli menyebut diri mereka sendiri, yang juga dikenal memiliki budaya unik, terutama bagi kolonial Belanda saat mereka memasuki wilayah Toraja ratusan tahun lalu. Pemerintah Belanda saat itu melalui “Reformed Missionary Alliance” menyebarkan agama Kristen pada penduduk setempat. Saat ini, walaupun dikelilingi oleh orang-orang dari suku berbeda dan beragama Islam, mayoritas suku Toraja tetap menganut agama Kristen.

…sejarah Tana Toraja…


Orang Toraja berbicara dengan menggunakan dialek mereka sendiri, dialek Toraja, selain Bahasa Indonesia tentunya. Menurut sejarawan, nama Toraja pada awalnya diberikan oleh suku lain di Sulawesi Selatan, yaitu suku Bugis-Sidendereng dan Luwu. Bugis-Sidendereng menyebut orang Toraja sebagai “To Riaja” yang artinya orang yang hidup di kaki gunung. Sementara suku Luwu menyebut mereka sebagai “To Riajang” yang berarti orang yang hidup di barat. Kemudian, mereka pun dikenal dengan nama Toraja, sementara daerah di mana orang Toraja tinggal disebut dengan “Tana” atau tanah. Karena itu, saat ini daerah ini pun dikenal sebagai Tana Toraja, yang terkadang juga disebut sebagai “Tondok Lepongan Bulang Tana Matari Allo” (dataran bulat seperti matahari dan bulan: suku-suku berbeda yang bersatu di sebuah dataran).

Ada 3 status/kelas sosial di Tana Toraja, yaitu “Tokapua” (masyarakat dengan status tertinggi), “Tomakaka” (masyarakat status menengah), dan “Tobuda” (masyarakat status terendah). Kelas-kelas sosial ini juga mempengaruhi budaya mereka, seperti upacara tradisional terkenal mereka, “Rambu Solo”, sebuah upacara pemakaman yang berdasarkan pada status sosial, di mana keluarga duka akan mengorbankan banyak kerbau, babi, dll, untuk kemudian diberikan atau disajikan kepada keluarga dan para tamu.


…upacara mewah…


Upacara pemakaman Toraja tidak seperti pemakaman biasa di belahan lain di Indonesia atau bahkan di dunia. Orang Toraja menyimpan mayat di dalam sebuah “rumah tradisional” sebelum akhirnya dikubur ke dalam sebuah “Liang” atau makam yang dibangun dalam gua, tebing tinggi, atau batu.

Lokasi makam di tebing juga menentukan status/kelas sosial dari keluarga, semakin tinggi status sosialnya, maka semakin tinggi pula pahatan makam mereka di tebing. Sementara keluarga yang berasal dari status sosial lebih rendah, mereka biasanya hanya meletakan mayat dalam sebuah peti dan menaruhnya di dalam gua terdekat atau dalam sebuah batu di ladang atau di samping jalan.

Selain upacara pemakaman, ada pula upacara ucapan syukur untuk merayakan semua berkah yang sudah mereka terima, seperti panen yang baik, kesehatan, dan kemampuan untuk membangun rumah. Dan lagi-lagi, upacara ucapan syukur ini akan dirayakan dengan mengorbankan banyak babi, kerbau, dll. Upacara ini dipimpin oleh seorang “Tominaa”, pendeta dari kepercayaan kuno “Aluk Todolo”.


...sisi indah dari Tana Toraja...


Tana Toraja sendiri memiliki banyak bukit dan gunung, seperti Gunung Latimojong (gunung tertinggi) dan Gunung Mont Sopai. Ada beberapa rute untuk mendaki bukit dan gunung di sekitar Rantepao, kota yang paling sering dikunjungi di Toraja, di mana Anda bisa melihat pemandangan indah dari alam dataran Toraja. Untuk mereka yang tidak suka memanjat bukit, mengunjungi desa-desa, seperti desa Londa, merupakan pilihan yang baik, di mana Anda bisa melihat makam alami yang dibangun dalam gua-gua di atas tebing. Kunjungi desa Bonoran untuk melihat “Kete Kesu”, “Tongkonan” atau rumah-rumah tradisional Toraja. Rumah tradisional ini memiliki atap yang mirip “kapal” untuk menutupi seluruh bagian rumah dan di depan rumah biasanya dibangun lumbung padi.

Beberapa “Tongkonan’ didekorasi dengan pahatan/motif, namun sebagian ada juga yang tidak. Setiap desain rumah tersebut mendeskripsikan status sosial dari pemiliknya. Anda dapat menghubungi agen perjalanan di Rantepao untuk mengatur kunjungan ini. Toraja juga memiliki sungai yang tidak pernah kering, seperti Sungai Sadan (sungai utama), dan Sungai Maulu , (sering digunakan untuk arung jeram).

Apapun rencana perjalanan Anda nantinya, semoga Anda mendapatkan pengalaman yang mengagumkan di Toraja!

Halaman berikut...